Pandemi Hadir Membawa Getir Namun bersamanya Pendidikan bergulir

| Jumat, 21 Januari 2022

 Tema : Pengembangan Kurikulum Di Sekolah / Madrasah Dalam Masa Pandemi Covid-19.


Judul : Pandemi Hadir Membawa Getir Namun bersamanya Pendidikan mesti  bergulir 


Oleh : Rizki siti Lutfiah


Semester : 3C STAI Al-Azhary Cianjur


Mata Kuliah : Pengembangan Kurikulum


Dosen pengampu : Dr. Rudi Ahmad Suryadi, M. Ag


 


PANDEMI HADIR MEMBAWA GETIR NAMUN BERSAMANYA PENDIDIKAN MESTI BERGULIR 


 Pandemi covid -19 bergerombol hadir dengan tanpa jeda memaksa kita untuk tetap hidup dalam segala ketidak tenangan. Ia memaksa kita untuk belajar memaknai hidup dan lebih menghargai hidup yang telah Allah berikan tanpa henti. Banyak senandung makna yang mampu diurai bersama ujian yang melanda ini. Meski keterbatasan besar namun tidak sepantasnya menjadi alasan untuk tidak berdiri kokoh dalam kenormalan. Peraturan yang bergulir memaksa mendewasakan setiap manusia , tetap menjadi acuan karena tuntutan dan kebaikan dalam mevapai suatu mimpi yang belum diubah dalam bunyi kehidupan. Percaya atau tidak tapi ini adalah peraturan yang tetap diberlakukan meski peraturan ini hadir sangat menyulitkan  keadaan.


  Kehadiran pandemi yang tak pernah berhuyung pergi, tidak bisa kita paksa pergi apalagi diusiri untuk keluar dari bumi. Meski tidak terlihat kasat mata, tapi ia mampu memakan banyak bahkan beribu jiwa yang malang. Semua peristiwa banyak yang tidak terduga banyak pula tak bisa diterka mata, sehingga banyak sekali manusia yang menganggapnya biasa padahal kekuatannya  diluar nalar manusia. Bahkan Nyawa menjadi taruhan akhirnya. Tidak ada yang mampu mengelak, ketika Allah berkehendak menjadikan virus ini bergerak. Manusia yang hanya sebagai hamba hanya mampu berdecak dan memuhasabah jiwa, karena mungkin pandemi ini adalah satu dari tanda kekuasaannya dalam bentuk peringatan nyata. 


   Banyak negara diseluruh dunia yang diberikan ujian menghadapi candaan alam yang sungguh luar biasa. Bahkan Indonesia sendiri punya tantangan besar dalam penanganan Covid-19 yang membrontak tak terhingga. Dari semua aspek yang menjadi tantangan saat ini, saya konsentrasi pada aspek pendidikan yang esensial dan wajib untuk didiskusikan. Aspek pendidikan menjadi konsentrasi penulis, karena telah 2 tahun pandemi berhasil mengacak- ngacak kurikulum baik disekolah maupun madrasah yang sudah dirancang sebelumnya. Dan bahkan banyak manusia yang sudah tidak tahan lagi dalam belajar yang tidak kondusif dimasa ini.


   Tahun baru yang seharusnya menjadi tahun harapan malah menjadi tahun yang penuh kutukan. Pandemi Covid-19 memaksa kebijakan social distancing, atau di Indonesia lebih dikenalkan sebagai physical distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir persebaran Covid-19. Jadi, kebijakan ini diupayakan untuk memperlambat laju persebaran virus Corona di tengah masyarakat Dunia. Bahkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merespon dengan kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring dan disusul peniadaan Ujian Nasional untuk tahun ini. Hal ini sungguh menyembelih kekhawatiran setiap manusia didunia.


     Mencekamnya bumi menjadi tantangan khusus untuk Pembelajaran dikala pandemi yang cukup mengeraskan hati dan menguras energi dalam menyukupkan budi dan pekerti.


        Penyebaran virus Corona yang tak tak berhenti di berbagai negara, memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah secara duka. Kita bisa melihat bagaimana perubahan-perubahan di bidang teknologi, ekonomi, politik hingga pendidikan di tengah krisis akibat Covid-19. Perubahan itu mengharuskan kita untuk bersiap diri, merespon dengan sikap dan tindakan sekaligus selalu belajar hal-hal baru. Indonesia tidak sendiri dalam mencari solusi bagi peserta didik agar tetap belajar dan terpenuhi hak pendidikannya.  Sampai  1 April 2020, UNESCO mencatat setidaknya  1,5 milyar anak usia sekolah yang terdamapk Covid 19 di 188 negara termasuk 60 jutaan diantaranya ada di negara kita.


  Mengerikan memang  ketika pandemi perdana muncul, banyak orang yang tildak percaya. Hingga peraturan pemerintah yang dikeluarkan pun banyak yang diabaikan dan dipandang sebelah mata. Dalih yang digunakan adalah bahwa virus ini adalah virus biasa seperti seseorang yang terserang flu batuk dan sejenisnya. Namun ketika pergantian bulan dan virus ini semakin menjamur,barulah banyak yang tersadarkan bahwa ini bukan sembarang virus yang sering kita dengar sebelumnya. Dewasa ini bahkan orang orang hanya bisa pasrah menerima nya.


  Hadir pula dampak buruk yang turun ditimang dan diselirkan oleh virus ini. Kesehatan  manusia banyak yang terganggu karena banyaknya ketakutan, ekonomi yang tidak stabil bahkan krisis diseluruh penjuru, pembatasan interaksi sosial yang marenggut jati manusia sebagai mahluk sosial, dan yang lebih mengenaskan adalah dampak buruk terhadap para pelajar, para pengajar, juga pelajaran yang semakin ketinggalan dan kehidupan bak tong kosong yang begitu nyaring berbunyi. Pembelajaran kini semakin ketinggalan dan membuat sebagian pelajar yang memiliki keterbatasan tak dapat menyemir kepala dengan keilmuan. Terutama keterbatasan materil, seperti kurangnya fasilitas pembantu pembelajaran atau lingkungan yang belum menunjang dan mendukung perubahan. Tentu ini menjari PR khusus bagi para pengajar bahwa dalam kondisi apapum pengajaran harus tetap diberikan, meskipun ujungnya pemerintah diharapkan dan berakhir dengan kehampaan.


             Untuk persoalan kali ini para pengajar banyak memberikan ketegasan dan juga penjelasan kepada para pelajar juga orang tua murid atas ilmu yang tetap berdiri wajib diraih. Meskipun banyak terjadi pro kontra dalam pengambilan keputusan ini bahkan tak jarang orang tua mengeluh kesana sini. Dan ini mungkin menjadi alasan klasik dan masih diatas kewajaran. Sikap orang tua yang sebagian memberikan persepsi bahwa pelajaran dan pengajaran itu hampir dititik beratkan kepada tenaga pengajar. Meskipun pernyataan itu tidak seutuhnya salah dan tidak seutuhnya benar. Karena seharusnya tenaga pengajar atau guru beserta orang tua harus memiliki cita-cita mulia meneruskan dan menjaga nama baik bangsa dimulai dari usia dini, remaja, dewasa dan seterusnya. Pada intinya guru dan orang tua harus memiliki persepsi yang sama. Dan tugas memberikan pelajaran kepada setiap anak adalah tanggung jawab bersama. 


         Meninjau demikian, Terlepas dari berbagai persoalan itu pendidikan yang sistemnya berubah memaksa para pelajar atau mahasiswa ikut pada program pemerintah yang tidak semua bisa menerima dengan hati yang lapangm Pemindahan pembelajaran kepada media dan teknologi membuat sebagian orang merasa kurang karena ketika sedang melaksanakan pembelajaran sianak memburu program yang lain seperti memfokuskan games digadgetnya dari pada pembelajaran. Ini adalah contoh kasus seorang anak yang berusia 10 tahun, dan termasuk  kalangan sekolah dasar. 


       Seutuhnya banyak sekali kasus atau kekurangan dari pemindahan sistem belajar ini. Namun apalah daya kita manusia yang masih mengikuti peraturan pemerintah dan belum mampu membuat peraturan seperti mereka, harus taat terhadap apa yang telah disepakati dan disetujui bersama meskipun hati membangkai perbuatan. Ketika bukan  untuk kebaikan bersama, jujur penulis saja akan menolak. Namun disini pandemi banyak memberi arti kepada kita semua akan arti demokrasi yang diterapkan dinegara kita Indonesia. Tidak setiap apa yang menjadi harapan kita harus selalu terlaksana jika dalam pemerolehannya banyak yang menjadi korban. Pandemi juga banyak memberi pelajaran tehadap pemikiran. Disini kita dituntut untuk berfikir keras membuat perubahan dan kemajuan dalam serba keterbatasan. 


  Jikapun kita enggan karena masih nyaman tinggal dizona nyaman, maka ketinggalan akan banyak yang memeberikan lambaian tangan. Tidak terketuk kah nadi dan jiwa?!. Ketika banyak orang diumurnya yang sekarang banyak memberikan kontribusi dan ide-ide brilian, tidak malu kah apa yang sudah kita berikan untuk semua. Harapan apa yang sebenarnya kita inginkan didunia? Tujuan apa yang sebenarnya menjadi tombak untama kita? Mari buat perubahan terutama perubahan dalam pendidikan yang jauh lebih baik. Cerdaskan anak bangsa dengan ide brilian kita. Dan itu adalah cita-cita yang sangat mulia dan pahalanya akan mengalir sepanjang masa. Mengubah manusia dengan liputan akhlak yang tumbuh berwibawa. 


Cianjur, 21 Januari 2022


https://pusdatin.kemdikbud.go.id/pembelajaran-online-di-tengah-pandemi-covid-19-tantangan-yang-mendewasakan/


rizkisitilutfiah.blogspot.com


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 



edit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lama

Hidup itu harus selalu Tentang Ilmu :)

© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content perjuangan melawan fikiran